RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri

Gawat Darurat I (0354) 7417333

img-20170111-wa0008
img-20170111-wa0010
img-20170111-wa0005
img-20170111-wa0001
img-20170111-wa0021
hasil-akreditasi
4
3
komdis 3
IMG-20160728-WA0005
IMG-20160728-WA0006
20160717_074500
20160717_065313
DSC_1299
DSC_1292
DSC_1247
VVIP3
VIP1
F
I
DSC_1202
Gallery RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri 7
Gallery RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri 5
Gallery RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri 4
Gallery RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri 8
<< >>

PENANGANAN PENYAKIT TIFUS MEMERLUKAN KETELATENAN DAN KESABARAN YANG TINGGI

July 15th, 2014

Penyakit tifus – Tifus adalah penyakit infeksi bakterial akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi. Di Indonesia, penderita tifus atau disebut juga demam tifoid cukup banyak tersebar di mana-mana dan ditemukan hampir sepanjang tahun. Paling sering diderita oleh anak berumur 5 sampai 9 tahun. Kurangnya pemeliharaan kebersihan merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Pola makan yang tidak teratur dan menyantap makanan yang kurang bersih dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini.

Penyebab

Penyakit ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman tifus ini. Tinja yang mengandung kuman tifus ini mencemari air untuk minum maupun untuk masak dan mencuci makanan. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh SEOrang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak.
Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran pencernaanya tanpa sakit. Ini yang disebut dengan penderita laten. Penderita ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke banyak orang apalagi jika dia bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang seperti tukang masak di restoran.
Penyakit ini menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni dan kotoran penderita. Penularan penyakit tifus terutama dilakukan oleh lalat dan kecoak. Sumber penularan tifus tidak selalu harus penderita tifus. Ada penderita yang sudah mendapat pengobatan dan sembuh tetapi di dalam air seni dan kotorannya masih mengandung bakteri. Penderita ini disebut sebagai pembawa (carrier). Walaupun tidak lagi menderita penyakit tifus, orang ini masih dapat menularkan penyakit tifus pada orang lain. Penularan tifus dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, biasanya terjadi melalui konsumsi makanan dari luar apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih.
Penularan dapat terjadi melalui mulut, masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang tercemar, masuk ke dalam lubang, ke kelenjar limfoid usus kecil, kemudian masuk ke dalam peredaran darah. Selama 24 sampai 72 jam setelah kuman masuk, meskipun belum menimbulkan gejala, tetapi kuman telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang dan ginjal. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari. Manifestasi klinik pada anak umumya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi. Demam adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan klinis.

Gejala

Dalam minggu pertama keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau justru sembelit (sulit buang air besar) selama beberapa hari. Suhu tubuh meningkat terutama pada sore dan malam hari. Kadang-kadang peningkatan suhu tubuh tidak terlalu tinggi tetapi penderita merasakan sakit kepala yang amat sangat.

Setelah minggu kedua gejala yang timbul menjadi lebih jelas. Demam yang tinggi berlangsung terus menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecah-pecah /terkupas, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan dan tremor. Hati atau limpa membesar timbul rasa nyeri diraba serta perut kembung. Penderita nampak sakit berat disertai gangguan kesadaran dari yang ringan seperti letak tidur pasif acuh tak acuh (apati), sampai berat (delirium, koma).

Demam tifoid yang berat memberikan komplikasi perdarahan, kebocoran usus (preforasi), infeksi selaput usus (peritonitis), renjatan, bronkopnemoni dan kelainan di otak (ensefalopati, meningitis). Penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah dari ringan sampai sedang karena efek kuman yang menekan sumsum tulang. Leukosit dapat menurun hingga kurang dari 3.000/mm³ dan ini ditemukan pada fase demam

Makanan Yang Harus Dihindari Penderita Tifus

Penanganan penyakit tifus memerlukan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Hal ini terutama lebih dikarenakan oleh lamanya penyakit ini untuk bisa sembuh total. Belum lagi pantangan-pantangan yang harus dilakukan agar penyakit ini tidak menjadi lebih parah. Sungguh, semua halnya memerlukan ekstra perhatian.

Hal-hal yang menjadi perhatian saat sakit tifus sebenarnya tidak terlalu banyak. Hal-hal tersebut di antaranya saja adalah adanya makanan yang harus dihindari penderita tifus, tidak bolehnya penderita untuk banyak bergerak, keharusan penderita untuk istirahat total (bedrest), hingga mungkin rawat inap (opname) di rumah sakit. Dari sekian hal yang menjadi perhatian, makanan yang harus dihindari penderita tifus akan menjadi bahasan kita kali ini.

Makanan yang harus dihindari penderita tifus cukup mudah karena makanan bagi penderita tifus hanya boleh bubur nasi atau bubur buah manis yang sangat encer. Makanan-makanan ini harus dihindari karena efeknya terhadap perut penderita, terutama bagian usus yang memang sedang ‘bermasalah’. Makanan-makanan yang terlarang bagi penderita tifus ini di antaranya adalah makanan pedas, makanan berlemak, kopi, serta minuman bersoda.

  • Makanan pedas di dalam perut yang normal akan membuat organ-organ pencernaan panas. Luka di dalam usus akibat bakteri Salmonella typhi selama tifus jika diberi makanan pedas akan mengalami pembengkakan dan mungkin pendarahan. Nah, jika sudah begini, kesembuhan penyakit tifus yang diderita akan semakin lama. Bahkan jika dilakukan, ini bisa membawa kematian penderita.
  • Makanan berlemak dicerna tubuh lebih lama daripada makanan berkarbohidrat. Hal ini karena ikatan kimia lemak yang lebih kompleks dan juga karena pencernaan lemak baru terjadi di dalam usus. Bukan di mulut atau di lambung seperti layaknya karbohidrat. Jika penderita tifus mengonsumsi makanan berlemak, ususnya yang justru sedang ‘bermasalah’ dipaksa untuk ‘bekerja’. Bukan hal mustahil, ini bisa menyebabkan pendarahan usus. Jika sudah begini kesembuhan penyakit juga akan lama dan mungkin bisa menyebabkan kematian.
  • Di dalam perut kopi bisa memicu naiknya tingkat keasaman lambung. Jika penderita tifus mengonsumsi kopi, bisa Anda bayangkan seperti apa jadinya? Ya, usus yang sedang luka diberi asam maka sudah pasti lapisan-lapisan mukosa usus bisa tergerus dan akhirnya terjadi pendarahan. Lagi-lagi, ini bisa menyebabkan kematian.
  • Hal yang sama juga terjadi pada minuman bersoda. Karbonasi soda di dalam perut bisa menyebabkan naiknya kadar keasaman lambung. Maka seperti kopi, ini bisa menyebabkan kematian.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*